Jumat, 15 Maret 2013

Berjihadlah di Jalan Allah Dengan Sebenarnya Jihad!


Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan jihad kepada hamba-hamba-Nya dan mewajibkan hal itu atas mereka sesuai dengan kemampuan dan kesiapan mereka. Dia berfirman,

 وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Hajj: 78)

Perintah jihad ini berlaku umum bagi seluruh kaum muslimin. Masing-masing mereka wajib berjihad sesuai dengan kemampuannya. Dan perintah agar berjihad dengan sebenar-benarnya ini  seperti perintah-Nya untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Dan sebagaimana diketahui bahwa makna haqqa tuqatihadalah agar ditaati dan tidak didurhakai, diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak dikufuri. Maka maknahaqqa jihadih adalah supaya seorang hamba berjihad (menundukkan) dirinya agar hati, lisan, dan anggota tubuhnya tunduk kepada Allah sehingga semuanya hanya untuk Allah dan karena-Nya, bukan untuk dan karena dirinya sendiri.

Kemudian dilanjutkan dengan menjihadi (melawan) syetannya dengan mendustakan janjinya, mendurhakai perintahnya, melanggar larangannya karena syetan hanya menjanjikan angan-angan dan menawarkan hayalan, mengancam dengan kemiskinan, memerintah yang buruk dan mencegah/menghalangi dari perkara takwa dan petunjuk, kemuliaan dan sabar, serta seluruh akhlak mulia. Kemudian dia menjihadi syetan tersebut dengan mendustakan janjinya dan mendurhakai perintahnya sehingga dengan dua macam bentuk jihad ini dia akan memiliki kekuatan dan kekuasaan.

Lalu dilanjutkan dengan menyiapkan diri untuk berjihad melawan musuh-musuh Allah dari kalangan kafirin dan musyrikin dengan hati, lisan, tangan, dan hartanya supaya kalimat Allah menjadi yang tertinggi.

Selanjutnya berjihad melawan pelaku kedzaliman, kemungkaran, dan bid’ah. Jihad dilakukan dengan mengingkari dan merubah kemungkaran yang dilakukan dengan terang-terangan. Yaitu dengan tangan, jika tidak mampu baru dengan lisan dan jika masih tidak mampu juga maka baru dengan hati.

Perbedaan ulama dalam memaknakan Haqqa Tuqatih

Sebagaimana yang disebutkan dalam tafsir al-Baghawi, “Berjihadlah di jalan Allah dalam melawan musuh-musuh-Nya dengan sebenar-benarnya jihad.” Yaitu –sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas-, “Adalah mencurahkan seluruh kekuatan di jalan-Nya dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela.” Penafsiran ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

. . . yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. Al-Maidah: 54)

Muqatil dan al-Dhahak berkata, “Beramalah untuk Allah dengan sebenarnya amal dan sembahlah Dia dengan ibadah yang sebenarnya.”

Abdullah bin Mubarak berkata, “Dia adalah menjihadi diri dan hawa nafsu. Dan ini merupakan jihad terbesar dan menjadi jihad yang sesungguhnya.”

Sedangkan mayoritas mufassirin menyebutkan tentang makna haqqa tuqatih adalah hendaknya niatmu ikhlas (murni) dan benar-benar untuk Allah 'Azza wa Jalla. (lihat tafsir al-Baghawi)

Dan tidak benar pendapat orang yang mengatakan, “Kedua ayat tersebut dihapus karena keduanya mengandung perintah yang tidak mungkin mampu dilaksanakan.”

Haqqa tuqatih dan haqqa jihadih: adalah sesuatu yang mampu dilaksanakan oleh setiap hamba. Dan semua itu berbeda-beda sesuai dengan keadaan para mukallaf dalam kuat, lemah, pengatahuan, dan kejahilannya. Takwa dan jihad yang sesunguhnya disandarkan kepada orang yang kuat, mampu, dan alim adalah sesuatu berbeda bila dibandingkan kepada orang sakit, bodoh, dan lemah.

Lemahnya pendapat tersebut dikuatkan dengan kalimat yang Allah pakai dalam mengiringi perintah tersebut:

هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ في الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj: 78)

Makna al-haraj adalah Kesempitan. Dan Allah tidak menjadikan ajaran agamanya sempit dan memberatkan, tapi Dia menjadikannya luas, lapang, dan mudah yang mampu dilakukan oleh setiap orang, sebagaimana dia mejadikan rizkinya diperoleh orang setiap yang hidup.

Sebagaimana Dia menetapkan rizki bagi hamba yang bisa diusahakannya, maka Dia membebani perintah kepada mereka yang mampu dilakukannya juga.

Dia tidak menjadikan kesempitan bagi hamba-Nya dalam menjalankan agama-Nya ditinjau dari sisi manapun. Nabishallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Saya diutus dengan ajaran yang lurus dan lapang (moderat).” Maknanya dengan agama yang lurus dalam tauhid dan mudah dalam pengamalannya.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melapangkan bagi para hamba-Nya dalam menjalankan agama-Nya, memperoleh rizki, maaf dan ampunan-Nya. Dia juga melapangkan jalan taubat selama ruh masih menyatu denga jasad. Dia membuka pintu taubat dan tidak menutupnya sehingga matahari terbit dari barat. Dia mejadikan setiap kemaksiatan ada kafarah yang bisa menghapuskan dosanya berupa taubat, shadaqah, amal shalih yang menghapuskan dosa, musibah yang bisa menghapuskan keburukan-keburukan. Dari setiap yang Dia haramkan, diberikan ganti dengan sesuatu yang halal yang lebih bermanfaat, lebih baik, dan lebih nikmat baginya. Sehingga hamba mencukupkan diri dengan yang halal dan menjauhi yang haram. Allah memperbanyak yang halal dan tidak mempersempitnya. Dia menjadikan dari setiap kesulitan sebagai ujian agar hatinya menjadi lapang, lalu mendapatkan kemudahan sesudahnya. “Tidak mungkin ada satu kesulitan yang mengalahkan dua kemudahan.” Jika kebaikan Allah terhadap hamba-Nya seperti ini, bagaimana mungkin Dia akan membebani mereka dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya dan tidak kuasa dijalankannya.

Sebagaimana Dia menetapkan rizki bagi hamba yang bisa diusahakannya, maka Dia membebani perintah kepada mereka yang mampu dilakukannya juga.

Pentingnya berjihad menundukkan hawa nafsu

Dalam uraian di atas, -sebagaimana yang disebutkan Ibnul Hajar dalam al-Fath dan Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma’ad- jihad terbagi menjadi empat tingkatan: yaitu berjihad menundukkan hawa nafsu, berjihad melawan syetan, jihad melawan musuh-musuh Allah dari kalangan kafirin dan musyrikin, dan jihad melawan orang-orang fasik dan ahli maksiat.

Dari keempat tingkatan tersebut, jihad melawan hawa nafsu menjadi yang pokok. Dan sesungguhnya seorang hamba selama dia tidak melakukan jihad terhadap hawa nafsunya terlebih dahulu maka dia tidak akan mungkin akan melaksanakan perintah Islam atau meninggalkan larangan-larangannya. Tidak mungkin dia akan tergerak untuk berjihad melawan musuh dari luar kalau dia tidak tergerak untuk memerangi musuh yang ada di dalam dirinya. Dari sini benar apa yang disabdakan Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam,

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ

Mujahid adalah orang yang menundukkan jiwanya untuk taat kepada Allah. Sedangkan muhajir adalah orang yang menjauhi (meninggalkan) kesalahan dan dosa.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 549)

Dan dalam khutbah hajah beliau, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Dan kami berlindung kepada-Mu (ya Allah) dari keburukan jiwa kami dan jeleknya amal-amal kami.”

Sesungguhnya jiwa senantiasa mengajak kepada kemaksiatan dan mengutamakan kehidupan dunia. Sedangkan Allah memerintahkan hamba-Nya untuk takut kepada-Nya dan menahan diri dari menuruti hawa nafsu. Dan hamba ada dua, menuruti hawa nafsunya sehingga dia hancur dan celaka atau menyambut seruan Tuhannya sehingga dia akan selamat dan beruntung. Hawa nafsu menyuruh untuk pelit sedangkan Allah menyuruh untuk berinfaq,

وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan berinfaklah itu lebih baik bagi dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Taghabun: 16)

Dan berjihad melawan hawa nafsu memiliki empat tingkatan:

1. Menundukkan hawa nafsu untuk mempelajari petunjuk dan agama yang benar. Sesungguhnya tidak aka nada keberuntungan dan kebahagiaan tanpanya. Karena itu jika hal ini dilalaikan maka akan sengsara dunia dan akhirat.

2. Menundukkannya untuk mengamalkan petunjuk setelah mengetahuinya. Jika tidak, maka sebatas mencari ilmu yang tidak diikuti amal tidak akan mendatangkan kebaikan, bahkan bisa mencelakakannya.

3. Menundukkannya untuk mendakwahkan dan mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya. Jika tidak, maka ia termasuk orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan oleh Allah dari petunjuk dan keterangan. Ilmunya tidak membawa manfaat baginya dan tidak bisa menyelamatkannya dari siksa Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (QS. Al-Baqarah: 159)

4. Menundukkannya untuk sabar menghadapi kesulitan dakwah dan menerima hal itu semua karena Allah.

Dan apabila seseorang mampu melaksanakan empat hal di atas, maka dia termasuk ke dalam golongan Rabbaniyyin. Karena para ulama salaf telah bersepakat bahwa orang yang berilmu tidak bisa menjadi figur yang rabbani sampai ia mengerti kebenaran, mengamalkannya, dan mengajarkannya. Maka siapa yang mengetahui kebenaran, mengamalkan dan mendakwahkanya maka akan diagungkan di tengah penduduk langit. Wallahu a’lam bil shawab….. 

Membiasakan Wudu Sebelum Tidur

wudu
1) Sangat beruntung meninggal dalam keadaan berwudu. Oleh karena itu, bercita-cita besar untuk bisa meninggal dalam keadaan berwudu menjadi awal yang sangat baik. Orang meninggal dalam keadaan berwudu akan menjadi manusia yang bercahaya pada hari akhir nanti sehingga bisa bertemu Allah dengan muka bercahaya. Dengan memiliki cita-cita seperti ini, seseorang akan senantiasa menjaga wudunya, tidak hanya ketika akan shalat atau pergi ke masjid, tetapi juga dalam setiap waktunya. Betapa tidak, tidak ada seorang pun yang tahu kapan dan di mana maut akan menjemputnya.
2) Memahami benar-benar keutamaan menjaga wudu, khususnya ketika hendak tidur, menjadi bagian selanjutnya yang sangat baik. Jika kita tidur enam jam dalam keadaan suci, sepanjang waktu itu pula malaikat akan mendoakan kita dan memintakan ampunan kepada Allah atas dosa-dosa kita. Boleh jadi, ketika bangun tidur, kita bangun dalam keadaan suci karena dosa-dosa kita telah berguguran. Andaipun kita tertidur dan tidak bangun lagi, insya Allah pahala surga sudah menunggu kita.
3) Mulai membiasakan diri berwudu sebelum tidur. Wudu sebelum tidur itu sangat berat bagi orang yang tidak terbiasa melakukannya. Sebaliknya, menjadi sangat ringan bagi orang yang sudah terbiasa melakukannya, bahkan ada yang sulit dan tidak nyenyak tidur jika mereka tidak berwudu dulu sebelum tidur. Ada sesuatu yang hilang jika tidak berwudu. Awalnya memang berat, tetapi kemudian menjadi nikmat.
4) Bertahap. Awalnya, buatlah target bahwa malam ini kita harus berwudu dulu jika hendak tidur. Ulangi lagi keesokan harinya. Demikian seterusnya. Biasanya, jika satu minggu kita bisa istikamah melakukannya, insya Allah ke depannya akan menjadi lebih mudah.
5) Bagaimana jika batal? Gampang … tinggal perbarui lagi wudu kita. Jika tidak memungkinkan? Ya jangan dilakukan. Asal kita sudah berusaha, it’s no problem. Allah Mahatahu keinginan dan ikhtiar kita dalam menegakkan sunah Rasul-Nya.
6) Mengajak keluarga kita: anak, istri atau suami, pembantu, dan orang-orang di rumah untuk membiasakan diri berwudu sebelum tidur akan melahirkan semangat saling mengingatkan dan saling menguatkan di rumah kita. Terlebih bagi seorang anak, dengan membiasakannya berwudu sebelum tidur, akan terbentuk sikap hidup positif pada kemudian hari.
7) Memohonlah kepada Allah Swt. agar kita dijadikan sebagai orang yang senantiasa menjaga kesucian diri. Salah satunya dengan senantiasa menjaga wudu.
“Jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka kebaikan itu akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain. Jika seorang hamba melakukan keburukan, dia pun akan cenderung melakukan keburukan lainnya sehingga keburukan itu menjadi kebiasaannya.”
— Salafus Shalih —

Keutamaan Apabila Shalat Tepat Waktu


 shalat tepat waktuKita semua tahu bahwa shalat adalah ibadah yang wajib. Pentingnya shalat membuat ibadah ini harus dilakukan bagaimanapun keadaannya. Bahkan orang sakit selama masih mampu shalat, harus tetap shalat dengan cara yang telah ditentukan.
 Agar  bisa tepat waktu >>

Namun masih banyak di antara kita yang sering menunda-nunda shalat walau adzan sudah berkumandang. Shalat tepat waktu memang bukan hal yang mudah di tengah kesibukan kegiatan sehari-hari.
Ada yang capek pulang sekolah saat dzuhur, tertidur pulang kuliah saat ashar, lelah pulang kerja saat magrib, kesiangan saat subuh, masih banyak pekerjaan saat isya, atau mungkin hanya karena malas saja. Hal-hal seperti itulah yang membuat kita sulit untuk memenuhi panggilan Allah SWT tepat waktu.
Padahal shalat tepat waktu memiliki keutamaan yang sangat besar dan merupakan amalan yang paling afdal, seperti dalam hadis :
Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, amal perbuatan apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.”(HR. Bukhari)
Dari hadist tersebut kita dapat menyimpulkan betapa pentingnya shalat tepat waktu, dan tentu saja hal tersebut sangat disukai Allah SWT.
Adapun keutamaan shalat tepat waktu adalah :
Di antaranya :
1. Dicintai Allah SWT
2. Badan selalu sehat
3. Dijaga oleh malaikat
4. Diturunkan berkah untuk rumahnya
5. Wajahnya akan menunjukkan tanda-tanda orang yang shaleh
6. Akan berhati lembut
7. Melalui jembatan Shiratal Mustaqim seperti kilat
8. Diselamatkan dari siksa api neraka
9. Ditempatkan ke dalam golongan orang-orang tidak takut dan bersedih
Keutamaan shalat tepat waktu tersebut disampaikan oleh Khalifah Usman bin Affan.
Selain memiliki keutamaan tersebut, shalat tepat waktu akan memberikan manfaat lain, yaitu:
1. Disiplin
Banyak yang mengatakan orang Indonesia terkenal suka tidak tepat waktu. Sebagai generasi muda, kita harus membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar. Dengan membiasakan diri untuk selalu shalat tepat waktu, maka akan menumbuhkan sikap disiplin dalam diri kita.  Sikap disiplin ini lama-lama akan menyebar juga pada kegiatan lain, tidak hanya shalat. Bagaimana kita bisa disiplin dalam kegiatan berat, bila hal seringan shalat saja kita malas-malasan?
2. Memprioritaskan Allah
Dengan suka menunda-nunda shalat karena alasan duniawi, berarti kita menomorduakan Allah SWT. Na’udzubillah... Dengan selalu melakukan shalat tepat waktu, maka Allah akan menjadi prioritas utama dalam kehidupan kita. Bagaimana doa kita didengar oleh Allah SWT bila kita saja tidak memprioritaskan-Nya?
3. Pandai mengatur
Memang banyak halangan untuk melaksanakan shalat secara tepat waktu, misalnya masih di jalan atau dikalahkan oleh rasa lapar. Bila sudah tahu penyebabnya, kita harus dapat memanajemen waktu dan kegiatan. Misalnya apakah memundurkan kepulangan kita, shalat di tengah perjalanan, atau memajukan kepulangan sehingga dapat shalat tepat waktu.
4. Menggugurkan dosa
Siapa manusia yang tidak berdosa? Setiap manusia pasti memiliki dosa, namun dosa-dosa tersebut dapat berguguran dengan kita selalu shalat tepat waktu. Seperti sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya seorang hamba yang muslim, jika menunaikan shalat dengan ikhlas karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya daun-daun ini dari pohonnya” (HR. Ahmad).
Lalu bagaimana agar kita mudah melaksanakan shalat tepat waktu?
1. Niat
Niat adalah langkah awal untuk menetapkan hati agar dapat shalat tepat waktu. Dengan niat yang kuat, maka insya Allah apapun yang menghalangi kita untuk shalat tepat waktu tidak akan membuat kita menyerah.
2.Gunakan alarm
Manfaatkan fitur alarm dalam ponsel kita tidak hanya untuk bangun pagi, namun buatlah alarm shalat. Buat alarm setiap kali waktu shalat telah tiba. Ini akan membantu kita untuk mengingatkan diri sendiri.
3. Berdoa
Berdoalah kepada Allah SWT agar terlindung dari kemalasan dan rintangan.
4. Zikir
Sifat malas identik dengan godaan setan. Oleh karena itu perbanyaklah zikir untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
5. Jadwal shalat
Masukkan shalat sebagai jadwal dalam kegiatan kita sehingga mau tidak mau kita harus menepatinya. Kebanyakan orang menjadikan shalat sebagai kegiatan yang diselipkan di atas kegiatan sehari-hari.
6. Mengingat hari akhir
Dengan mengingat hari akhir, maka kita akan lebih terdorong untuk melakukan shalat dengan tepat waktu.
7. Bergaul dengan orang yang menjaga shalat
Dengan berada di lingkungan orang yang menjaga shalat, maka kita pun akan terbiasa untuk menjaga shalat.
8. Menjaga wudhu
Kadangkala kita malas shalat karena malas berwudhu, dengan selalu menjaga wudhu maka kita akan lebih merasa ringan untuk melaksanakan shalat dengan segera.

Manfaat Jilbab: Manfaat Jilbab Menurut Islam Dan Sains


Allah memerintahkan sesuatu pasti ada manfaatnya untuk kebaikan manusia. Dan setiap yang benar-benar manfaat dan dibutuhkan manusia dalam kehidupannya, pasti disyariatkan atau diperintahkan oleh-Nya. Di antara perintah Allah itu adalah berjilbab bagi wanita muslimah. Berikut ini beberapa manfaat berjilbab menurut Islam dan ilmu pengetahuan.




1. Selamat Dari Adzab Allah (Adzab Neraka)

“Ada dua macam penghuni Neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya; sekelompok laki-laki yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan menyesatkan, yang dikepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka (wanita-wanita seperti ini) tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan bau surga itu tercium dari jarak yang jauh” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang” ialah mereka yang menutup sebagian tubuhnya dan menampakkan sebagian lainnya dengan maksud menunjukkan kecantikannya.

“Wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang” ialah mereka yang menutup sebagian tubuhnya dan menampakkan sebagian lainnya dengan maksud menunjukkan kecantikannya.

2. Terhindar dari pelecehan

Banyaknya pelecehan seksual terhadap kaum wanita adalah akibat tingkah laku mereka sendiri. Karena wanita merupakan fitnah (godaan) terbesar. Sebagaiman sabda Nabi Muhammad shallallahu �alaihi wasallam, 

“Sepeninggalku tak ada fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari)


Jikalau wanita pada jaman Rasul merupakan fitnah terbesar bagi laki-laki padahal wanita pada jaman ini konsisten terhadap jilbab mereka dan tak banyak lelaki jahat saat itu, maka bagaimana wanita pada jaman sekarang??? Tentunya akan menjadi target pelecehan. Hal ini telah terbukti dengan tingginya pelecehan di negara-negara Eropa (wanitanya tidak berjilbab).

3. Memelihara kecemburuan laki-laki

Sifat cemburu adalah sifat yang telah Allah subhanahu wata�ala tanamkan kepada hati laki-laki agar lebih menjaga harga diri wanita yang menjadi mahramnya. Cemburu merupakan sifat terpuji dalam Islam.


“Allah itu cemburu dan orang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah adalah apabila seorang mukmin menghampiri apa yang diharamkan-Nya.” (HR. Muslim)


Bila jilbab ditanggalkan, rasa cemburu laki-laki akan hilang. Sehingga jika terjadi pelecehan tidak ada yang akan membela.

4. Akan seperti biadadari surga

“Dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, mereka tak pernah disentuh seorang manusia atau jin pun sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 56)

“Mereka laksana permata yakut dan marjan.” (QS. Ar-Rahman: 58)

“Mereka laksan telur yang tersimpan rapi.” (QS. Ash-Shaffaat: 49)

Dengan berjilbab, wanita akan memiliki sifat seperti bidadari surga. Yaitu menundukkan pandangan, tak pernah disentuh oleh yang bukan mahramnya, yang senantiasa dirumah untuk menjaga kehormatan diri. Wanita inilah merupakan perhiasan yang amatlah berharga.

Dengan berjilbab, wanita akan memiliki sifat seperti bidadari surga.



5. Mencegah penyakit kanker kulit

Kanker adalah sekumpulan penyakit yang menyebabkan sebagian sel tubuh berubah sifatnya. Kanker kulit adalah tumor-tumor yang terbentuk akibat kekacauan dalam sel yang disebabkan oleh penyinaran, zat-zat kimia, dan sebagainya.

Penelitian menunjukkan kanker kulit biasanya disebabkan oleh sinar Ultra Violet (UV) yang menyinari wajah, leher, tangan, dan kaki. Kanker ini banyak menyerang orang berkulit putih, sebab kulit putih lebih mudah terbakar matahari.

Kanker tidaklah membeda-bedakan antara laki-laki dan wanita. Hanya saja, wanita memiliki daya tahan tubuh lebih rendah daripada laki-laki. Oleh karena itu, wanita lebih mudah terserang penyakit khususnya kanker kulit.

Oleh karena itu, cara untuk melindungi tubuh dari kanker kulit adalah dengan menutupi kulit. Salah satunya dengan berjilbab. Karena dengan berjilbab, kita melindungi kulit kita dari sinar UV. Melindungi tubuh bukan dengan memakai kerudung gaul dan baju ketat. Kenapa? Karena hal itu percuma saja. Karena sinar UV masih bisa menembus pakaian yang ketat apalagi pakaian transparan. Berjilbab disini haruslah sesuai kriteria jilbab.

6. Memperlambat gejala penuaan

Penuaan adalah proses alamiah yang sudah pasti dialami oleh semua orang yaitu lambatnya proses pertumbuhan dan pembelahan sel-sel dalam tubuh. Gejala-gejala penuaan antara lain adalah rambut memutih, kulit keriput, dan lain-lain.

Penyebab utama gejala penuaan adalah sinar matahari. Sinar matahari memang penting bagi pembentukan vitamin Dyang berperan penting terhadap kesehatan kulit. Namun, secara ilmiah dapat dijelaskan bahwa sinar matahari merangsang melanosit (sel-sel melanin) untuk mengeluarkan melanin, akibatnya rusaklah jaringan kolagen dan elastin. Jaringan kolagen dan elastin berperan penting dalam menjaga keindahan dan kelenturan kulit.

Jilbab adalah kewajiban untuk setiap muslimah.

Krim-krim pelindung kulit pun tidak mampu melindungi kulit secara total dari sinar matahari. Sehingga dianjurkan untuk melindungi tubuh dengan jilbab.

Jilbab adalah kewajiban untuk setiap muslimah. Dan jilbab pun memiliki manfaat. Ternyata tak sekedar membawa manfaat ukhrawi namun banyak juga manfaat duniawinya. Jilbab tak hanya sekedar menjaga iman dan takwa pemakainya, namun juga membuat kulit terlindungi dari penyakit kanker dan proses penuaan.


Ternyata jilbab tak sekedar membawa manfaat ukhrawi namun banyak juga manfaat duniawinya.

Jilbab tak hanya sekedar menjaga iman dan takwa pemakainya, namun juga membuat kulit terlindungi dari penyakit kanker dan proses penuaan.



Demikianlah Allah memberi kasih sayangnya kepada wanita melalui syariat islam yang sempurna. 

Keajaiban & Keutamaan Bersedekah


Alquran  Surah Al Baqarah Ayat 267 )
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari HASIL USAHAMU YANG BAIK-BAIK dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan JANGANLAH KAMU MEMILIH YANG BURUK-BURUK lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.


Allah adalah MAHA MENEPATI JANJI, dan apa yang tertulis di Alqur'an adalah apa yang langsung diserukan Allah kepada umatnya. Adalah sebuah kerugian besar jika kita tidak yakin akan perkataan langsung Allah tersebut. Coba anda baca dan renungkan apa yang langsung diserukan Allah tentang sedekah di bagian bawah ini:
  

Alquran  Surah Al Baqarah Ayat 245 )
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), MAKA ALLAH MELIPAT GANDAKAN PEMBAYARAN KEPADANYA DENGAN LIPAT GANDA YANG BANYAK. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Dalam ayat ini Allah dengan jelas mengatakan akan melipat gandakan, DENGAN LIPAT GANDA YANG BANYAK bagi siapa saja yang gemar sedekah. Di akhir kalimat ditekankan bahwa hanya Allah-lah yang bisa melapangkan atau menyempitkan rejeki makhluk ciptaanNya.
 ( Alquran Surah Al Baqarah Ayat 261 )
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Dalam ayat ini Allah secara jelas menyebut perhitungan matematis saat kita mengeluarkan hartanya untuk sedekah. Jika menurut perhitungan matematis itu berarti sedekah kita akan dibalas hingga 700 kali lipat! Di akhir ayat Allah menekankan akan membalas sedekah itu bagi siapa yang Dia kehendaki.
 (Alquran Surah Al Baqarah Ayat 274 )
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Dalam ayat ini Allah menjanjikan bagi siapa saja yang mau bersedekah, Allah akan memeliharanya dari segala bentuk kekhawatiran dan segala bentuk kesedihan. Anda saat ini sedang punya masalah? Makanya ayo segera bersedekah.
 
Alquran Surah An Nisaa Ayat 114 )
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Berdasarkan Firman Allah melalui Surah An Nisa di atas maka metode IPPS ini kami berikan dengan harapan dapat membuka hati saya hati anda dan hati setiap orang yang membuka dan membaca web ini untuk mau dengan ikhlas bersedekah kepada orang dan mau menebarkan semangat sedekah pada orang lain. Allah menjanjikan pahala yang besar bagi siapa yang mau mengajak sedekah orang lain. Makanya, silahkan share-kan web ini pada siapa saja, bisa di Facebook, Twiter, atau blog anda.


Allah sendiri telah menjanjikan, jika manusia mau bersedekah, maka Allah pasti akan menggantinya dengan jumlah minimal 10 (sepuluh) kali lipat. Dan, ini ada dasar hukumnya, yaitu tertulis di dalam Al-Qur'an Surat: 6, Ayat: 160, dimana Allah menjanjikan balasan 10 x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik. Bahkan di dalam Al-Qur'an Surat: 2, Ayat: 261, Allah menjanjikan balasan sampai 700 x lipat.

Seorang Ustadz tenama Yusuf mansur bahkan memberikan gambaran menganai hitungan hitungan sedekah dengan nama Matematika Sedekah, sungguh sangat berbeda dengan ilmu matematika yang dulu pernah kita pelajari di sekolah.

Beliau memberikan ilustrasinya sebagai berikut :

10 - 1 = 9 ... ini ilmu matematika yang biasa kita terima di sekolah dulu.

Tetapi ilmu Matematika Sedekah adalah sebagai berikut :


10 - 1 = 19 ... 
ini menggunakan dasar, bahwa Allah membalas 10 x lipat pemberian kita.

Sehingga kalau dilanjutkan, maka akan ketemu ilustrasi seperti berikut ini :

10 - 2 = 28

10 - 3 = 37

10 - 4 = 46

10 - 5 = 55

10 - 6 = 64

10 - 7 = 73

10 - 8 = 82

10 - 9 = 91

10 - 10 = 100



Nah, sungguh menarik bukan? Lihatlah hasil akhirnya. Kita tinggal mengalikan dengan angka 10, berapa pun yang kita sedekah kan atau kita berikan dengan ikhlas kepada orang lain yang membutuhkan bantuan kita. Ingatlah, balasan 10 x lipat dari Allah itu adalah balasan minimal. 

Dan, kita pakai balasan dari Allah yang minimal saja sebagai acuan berhitung, yaitu 10 x lipat, tidak usah berhitung yang 700 x lipat. nanti Calkulator anda Error. Tapi hebabnya Calculator Allah mampu mengitung semua amal yang makluknya. Oleh karena itu, kita perlu merasa rugi besar jika kita hanya mengeluarkan sedekah dengan jumlah minimal. Semakin banyak bersedekah, maka pasti semakin banyak penggantiannya dari Allah SWT. Tinggal kita yang mau membuka mata, bahwa pengembalian dari Allah itu bentuknya apa? Bukalah "mata hati" kita, selalu lah berpikir positif kepada Allah. Bukankah Allah berfirman, "Aku adalah sebagaimana yang diprasangkakan hamba-Ku kepada-Ku". Oleh karena itu, selalu lah berprasangka baik kepada Allah, maka Allah akan dengan serta merta menunjukkan KeMaha Kebaikan-Nya kepada kita. Allah pasti membalas kebaikan kita dengan balasan yang PAS, yang setimpal dengan amal perbuatan kita.

"MARI SALING GERAK MENGGERAKKAN DALAM HAL KEBAIKAN"

Nikmatnya Jalan Jihad Ibnu Taimiyah


“Seseorang tidak takut kepada selain Allah, kecuali ada penyakit dalam hatinya. Ada seorang lelaki yang mengadu kepada Ahmad bin Hambal tentang ketakutannya pada sebagian penguasa. Maka Ahmad bin Hambal mengatakan, ‘Jika hatimu sehat, kamu tidak akan takut selamanya’.”
Itulah ucapan seorang ulama besar sekaligus mujahid agung, Syaikh Ahmad bin Abdil Halim bin Taimiyah, atau yang biasa disebut dengan Ibnu Taimiyah. Ia lahir di Kota Harran daerah Damaskus, pada tanggal 10 Rabiul Awal tahun 661 Hijriyah.
Sejak kecil, ulama yang hidup dalam keluarga ulama ini, sudah menunjukkan tanda-tanda kemuliaannya. Ibnu Taimiyah kecil tidak seperti anak-anak lain yang biasa bermain dan bersenang-senang. Hampir tidak ada hari yang berlalu, kecuali bersamanya sebuah kitab karya ulama besar di zamannya. Tidak heran jika Ibnu Taimiyah lebih senang ke perpustakaan daripada ke tempat-tempat permainan.
Suatu hari, ketika Ibnu Taimiyah kecil ini sedang dalam perjalanan menuju perpustakaan, ada seorang Yahudi yang mengganggu. Tapi, setiap kalimat gangguan itu dijawab Ibnu Taimiyah dengan kata-kata hikmah yang berbobot tinggi.
Keesokan harinya, si Yahudi itu pun mengulanginya lagi. Ia mengira bisa mendapatkan hiburan gratis berupa rengekan atau ketakutan khas anak kecil ketika diganggu dengan kata-kata yang tidak mengenakkan. Tapi, lagi-lagi, si Yahudi mendapatkan balasan kalimat-kalimat indah yang begitu berbobot.
Pembicaraan pun akhirnya menyangkut pada nilai-nilai agama. Yahudi ingin menaklukkan Ibnu Taimiyah dengan pertanyaan-pertanyaan sulit yang memang bukan kelas anak seusianya. Tapi, ternyata perkiraan si Yahudi itu salah. Bukan hanya pertanyaannya terjawab, bahkan si Yahudi begitu asyik menikmati nasihat-nasihat Ibnu Taimiyah tentang Tauhid.
Dengan izin Allah swt., dengan dialog-dialog tauhid dengan Ibnu Taimiyah kecil, si Yahudi itu akhirnya masuk Islam. Ia pun menjadi seorang mukmin yang saleh, sebuah akhir yang di luar dugaannya.
Keluarga Ibnu Taimiyah sendiri kadang terheran-heran dengan perilaku ketidakkanak-kanakannya. Suatu kali, keluarganya mengajaknya pergi berwisata. Ibnu Taimiyah kecil menolak. Ia tetap menolak, walaupun keluarganya memaksa. Dan ia pun ditinggal pergi.
Ketika pulang, saudara-saudaranya menceritakan pengalaman indahnya ketika berwisata kepada Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah kecil ini pun mengatakan, aku tidak merasa rugi dengan kepergian kalian. Karena selama kalian pergi, aku berhasil menghafal satu jilid kitab Jannah An-Nazhir wa Jannah Al-Manazhir.
Sedemikian cinta dan hausnya Ibnu Taimiyah dengan ilmu, ratusan guru telah ia datangi untuk menimba ilmu. Hampir seluruh usia remajanya habis untuk ilmu dan ibadah. Tidak heran jika di usia 17 tahun, Ibnu Taimiyah sudah mampu mengeluarkan fatwa kepada umat.
Umat di zamannya begitu mengagumi keilmuan Ibnu Taimiyah saat beliau masih muda. Salah seorang murid beliau, Ibnu Katsir, mengungkapkan, “Ibnu Taimiyah lebih mengetahui fikih mazhab-mazhab daripada para pengikut mazhab-mazhab itu sendiri. Ia begitu menguasai ilmu ushul, furu’, nahwu, ilmu naqli dan aqli. Sehingga, tidak pernah ada seorang pun yang membantahnya dalam setiap majelis yang ia pimpin.”
Ibnu Taimiyah pun terkenal dengan kefakihannya dalam ilmu hadits. “Ibnu Taimiyah begitu mahir membedakan mana hadits shahih dan dhaif, mengetahui para perawi dan menguasai semua itu dengan penguasaan yang luar biasa!”
Seseorang pernah membangga-banggakan Ibnu Sina yang selalu merujuk pada para filusuf. Tapi, Ibnu Taimiyah mampu membongkar di mana ketidakberesan ilmu para filusuf itu.
Usia mudanya tidak jauh dari belajar ke ratusan guru, mengajarkan kepada umat, melakukan penelitian, menulis karya-karya ilmiah tentang hadits, tafsir, ushul, fikih, dan lain-lain. Dan, satu hal yang sudah menjadi bagian hidup Ibnu Taimiyah selain ilmu, yaitu jihad atau berperang di jalan Allah.
Hampir tidak pernah terpikir oleh mujahid muda ini tentang busana bagus, rumah indah, hobi, uang, kekuasaan, dan perempuan.
Tidak heran jika di semua tulisan tentang biografinya, menunjukkan kalau Ibnu Taimiyah belum menikah. Hal ini karena seperti yang ia sampaikan kepada ibunya sebagai permohonan maafnya, kesibukan di dunia ilmu dan jihad telah menjadikannya tidak berpikir tentang pernikahan. (Min A’lam as-Salaf, Syaikh Ahmad Farid)
“Sungguh aku telah berjanji kepada Allah, untuk tidak mengambil upah dari Alquran!”
Itulah ucapan Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah ketika masih sangat belia. Ucapan itu sebagai jawaban dari hadiah yang diberikan guru Alqurannya karena Ibnu Taimiyah telah begitu tekun menekuni ilmu Alquran.
Hadiah berupa uang sebesar empat puluh dirham itu sedianya akan diberikan rutin tiap bulan. Dan uang tersebut sebenarnya berasal dari ayah Ibnu Taimiyah sendiri yang menitipkan hadiah itu kepada gurunya.
Dunia begitu hina dalam pandangan Ibnu Taimiyah, bahkan sejak beliau masih sangat belia. Allah telah menyingkapkan baginya tirai kehinaan hiasan dunia. Walau itu sangat mungkin, tak pernah sekali pun hasrat duniawi itu terlontar dari Ibnu Taimiyah.
Malam-malam baginya merupakan momen yang paling indah untuk bisa bercengkerama dalam cinta bersama Yang Maha Sayang, Allah swt. Hampir seisi malam tak luput bagi guru Ibnul Qayyim Al-Jauziyah ini untuk shalat, zikir, dan membaca Alquran.
Salah satu kebiasaan Ibnu Taimiyah usai shalat Subuh berjamaah adalah zikir panjangnya yang ia lakukan sendirian. Dengan suara yang hanya ia dengar, ia terus menikmati zikir hingga datang waktu dhuha. Dan itulah yang didapati Ibnul Qayyim dalam keseharian gurunya.
“Aku tidak meninggalkan zikir, kecuali untuk istirahat agar jiwaku bisa segar kembali untuk melakukan zikir selanjutnya,” ucap Ibnu Taimiyah ketika muridnya itu menghampiri.
Selain ibadah dan zikirnya yang luar biasa, tawadhunya pun sudah menjadi kekaguman tersendiri bagi murid-murid Ibnu Taimiyah. Al-Bazzar pernah mengungkapkan kesaksian dari rekannya, “Ketika Ibnu Taimiyah keluar rumah untuk menemui murid-muridnya yang sudah menunggu di majelis ilmu, tak seorang pun muridnya yang boleh membawakan kitab-kitab referensi beliau. Semua ia bawa sendiri.
“Aku pernah minta maaf karena tidak membawakan sebagian kitab itu. Tapi, Ibnu Taimiyah justru mengatakan, ‘Seharusnya, kitab-kitab ini aku letakkan di atas kepalaku, aku hanya ingin membawa lembaran tulisan yang di dalamnya terdapat sabda-sabda Rasulullah saw.”
Begitulah Ibnu Taimiyah. Ia duduk dalam majelis di tempat sebagaimana hadirin duduk. Tidak ada tempat istimewa. Tidak ada kursi khusus, karpet indah dan sebagainya.
Al-Bazzar menambahkan, Ibnu Taimiyah juga begitu hormat dengan murid-murid yang belajar bersamanya. Tak ada kata-kata kasar, sombong, dan lainnya. Ia begitu serius mendengarkan pertanyaan, dan menjawabnya dengan wawasan yang jauh lebih luas dari masalah yang ditanyakan. Sehingga orang-orang seringkali mendapatkan ilmu yang jauh lebih berharga dari jawaban yang diinginkan.
Begitu pun dengan kedermawanannya. Suatu kali, ketika melewati suatu jalan, seorang fakir berteriak-teriak memanggil nama Ibnu Taimiyah. Beliau paham betul maksud panggilan itu. Ketika menghampiri, Ibnu Taimiyah langsung mengatakan, Saudaraku, aku memahami maksud panggilanmu. Aku tidak punya uang untuk kuberikan kepadamu. Ambillah pakaian luarku ini. Silakan kau jual berapa pun, untuk kau ambil uangnya.
Satu hal lagi, selain ilmu dan ibadah, yang sulit lepas dari Ibnu Taimiyah adalah perang di jalan Allah. Inilah kekhasan beliau yang jarang dimiliki ulama-ulama lain sezamannya. Ia bukan hanya berani, tapi juga begitu terampil memainkan senjata dan strategi perang.
Suatu kali, dalam Perang Syaqhab, melawan pasukan kafir yang telah menaklukkan Damaskus, Ibnu Taimiyah menghampiri panglima perang muslim. “Bawa aku seperti kau membawa orang mati ke depan sana,” ucapnya. Padahal, pasukan musuh yang begitu banyak sudah tampak mengalir seperti aliran banjir bah.
Sang panglima pun terperanjat. “Ini akan mengantarkanmu pada kematian. Sebaiknya jangan!” Tapi, Ibnu Taimiyah tetap memaksa. Setelah di depan, sang panglima melihat Ibnu Taimiyah menengadah ke langit sambil berucap sesuatu. Ia pun bangkit dan maju ke medan perang.
“Aku tidak melihatnya lagi, sampai Allah memberikan kemenangan pada umat Islam yang berhasil masuk ke kota Damaskus!” ucap sang panglima muslim.
Tidak heran jika para perwira tentara muslim kerap menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai rujukan strategi perang ketika berada di medan pertempuran. Ibnu Taimiyah juga begitu sibuk memberikan semangat kepada prajurit yang mulai lelah dan gentar dengan jumlah dan persenjataan musuh.
“Seseorang tidak takut kepada selain Allah, kecuali ada penyakit dalam hatinya. Ada seorang lelaki yang mengadu kepada Ahmad bin Hambal tentang ketakutannya pada sebagian penguasa. Maka Ahmad bin Hambal mengatakan, ‘Jika hatimu sehat, kamu tidak akan takut selamanya,” ucap guru Ibnu Katsir ini suatu kali.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ ﴿٥٤﴾
فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِندَ مَلِيكٍ مُّقْتَدِرٍ ﴿٥٥﴾
“Sesungguhnya orang-orang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS. Al-Qamar: 54-55)
Itulah bacaan Alquran terakhir yang dilantunkan Ibnu Taimiyah sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada malam Senin, tanggal 20 Dzulqa’dah tahun 728 Hijriyah. Penulis Kitab Majmu’ Al-Fatawa ini meninggal dunia dalam usia 67 tahun di sebuah penjara dalam benteng Damaskus.
Sebelumnya, begitu banyak ujian yang dialami Ibnu Taimiyah yang kerap berujung di hinaan dan penjara penguasa. Tapi semua itu, sedikit pun tidak mengubah keteguhan dan kesabaran beliau untuk selalu menyatakan yang benar adalah benar, dan yang batil adalah batil. Walaupun, hal tersebut harus ia sampaikan kepada para pembesar dan penguasa saat itu.
Pada tahun 705 Hijriyah, Sultan Mesir waktu itu, memindahkan paksa Ibnu Taimiyah dari Iskandariyah menuju Kairo. Masyarakat waktu itu begitu sedih karena harus kehilangan tokoh panutan yang senantiasa sabar membimbing mereka kepada jalan kebenaran Al-Islam.
Ibnu Taimiyah sendiri tidak paham maksud pemindahan dirinya ke Kairo. Setibanya di tempat tujuan, di benteng Shalahuddin, ternyata Ibnu Taimiyah dihadirkan dalam sebuah majelis para fuqaha dan penguasa yang akan mengadili Ibnu Taimiyah. Mereka secara bergantian mencerca Ibnu Taimiyah tanpa sedikit pun memberikan kesempatan kepada beliau untuk menjawab.
Ketika ada kesempatan Ibnu Taimiyah untuk memberikan jawaban, si pembawa acara langsung menegaskan, “Kamu hanya boleh menjawab singkat, bukan berceramah!”
Tidak puas dengan acara penghakiman itu, para pejabat pun memenjarakan Ibnu Taimiyah di suatu menara. Lalu, pada malam Idul Fitri, Ibnu Taimiyah dipindahkan ke sebuah penjara yang bernama Al-Jubb. Ia dipenjara selama delapan belas bulan.
Pada bulan Rabiul Awal tahun 707 H, ada seorang raja Arab yang bernama Hasamuddin Mahna bin Isa datang ke Mesir. Ia meninjau beberapa penjara, termasuk penjara di mana Ibnu Taimiyah tinggal. Saat itu, Ibnu Taimiyah pun dilepas atas permintaan raja Arab tersebut.
Ibnu Taimiyah kembali bermukim di Kairo. Beliau membuka majelis ta’lim yang diikuti begitu banyak murid. Umat Islam akhirnya bisa kembali mereguk keluasan ilmu penulis 18 kitab besar yang di antaranyaMuqaddimah fi ‘Ilm At-Tafsir.
Beberapa hari pun berlalu seiring dengan kesibukan Ibnu Taimiyah mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada umat di Mesir waktu itu. Tiba-tiba, ada aliran sufi yang mengadukan Ibnu Taimiyah kepada hakim. Mereka menuduh Ibnu Taimiyah telah menghina Ibnu Arabi dan ulama tasawuf lainnya.
Hakim pun akhirnya memutuskan untuk memberikan dua pilihan kepada Ibnu Taimiyah: pindah ke Damaskus dengan memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Atau, masuk penjara. Tanpa banyak pertimbangan, Ibnu Taimiyah langsung memilih masuk penjara.
Keputusan ini pun langsung dihalangi oleh orang-orang terdekat Ibnu Taimiyah. Mereka memohon agar Ibnu Taimiyah lebih memilih pindah ke Damaskus daripada masuk penjara. Ibnu Taimiyah pun akhirnya setuju.
Sayangnya, orang-orang yang memang tidak suka dengan perjuangan Ibnu Taimiyah langsung melobi penguasa untuk tidak membiarkan Ibnu Taimiyah pergi ke Damaskus. Benar saja, keesokan harinya, Ibnu Taimiyah akhirnya dikembalikan ke Kairo. Kemudian, beliau dimasukkan ke penjara Mahkamah.
Waktu itu, Mesir di bawah kekuasaan Raja Al-Muzhaffar Baibras Al-Jasynakir, salah seorang murid tokoh sufi, Nashr Al-Munbaji yang juga fanatik dengan Ibnu Arabi.
Keputusan tidak mengenakkan lainnya pun menyusul. Ibnu Taimiyah diasingkan di Iskandaria pada malam terakhir dari bulan Shafar tahun 709 H.
Suatu kali, ketika masuk ke sebuah penjara, Ibnu Taimiyah mendapati banyak para tahanan yang bermain catur dan dadu, serta berbagai permainan lainnya. Sementara, shalat mereka tidak terurus.
Ibnu Taimiyah pun langsung meluruskan penyimpangan yang mereka lakukan. Dan, mengajak mereka untuk shalat, berdzikir, memperbanyak amal shaleh, istighar, dan doa. Ibnu Taimiyah pun mengajarkan kepada mereka ilmu Alquran dan Sunnah.
Menariknya, hanya dalam waktu singkat, penjara yang semula penuh dengan kelalaian, berubah menjadi majelis ilmu. Para penghuni penjara begitu sibuk dengan kajian, hafalan, tilawah, zikir, dan lain-lain. Bahkan, mereka yang sudah diperbolehkan untuk bebas, lebih memilih untuk berada dalam penjara karena ingin menimba ilmu lebih banyak dari Ibnu Taimiyah.
Ketika Sultan Nashir memimpin Mesir, kebijakan utamanya adalah membebaskan Ibnu Taimiyah dari penjara. Sultan memberikan kebebasan kepada Ibnu Taimiyah untuk mengajar ilmu di tempat mana saja yang ia pilih. Ibnu Taimiyah pun dipersilakan berkunjung ke mana pun. Masyarakat pun menyambut kebijakan Sultan dengan begitu gembira.
Suatu hari, Ibnu Taimiyah mendaftar sebagai tentara relawan untuk bergabung dengan tentara Mesir dalam berjihad melawan pasukan Tartar. Dalam kesempatan itu, beliau mampir ke Baitul Maqdis dan berangkat menuju Damaskus. Ibnu Taimiyah tiba di Damaskus pada awal Dzulqa’dah tahun 712 H.
Ibnu Taimiyah pun pergi menuju Syam, di tempat ini, beliau kembali mengajar, menulis kitab, dan menyampaikan beberapa fatwa kepada umat. Di luar dugaan, salah satu fatwa tersebut ternyata tidak disukai beberapa tokoh dan penguasa.
Ibnu Taimiyah pun dihadapkan dalam sebuah majelis yang dihadiri banyak tokoh, dan penguasa. Di situ, beliau dihakimi, dicerca, dan akhirnya dimasukkan kedalam penjara. Pada tanggal 24 Rajab 720 H, atas perintah Sultan, Ibnu Taimiyah dikeluarkan dari penjara yang telah mengurungnya selama lima bulan.
Keluarnya Ibnu Taimiyah dari penjara, ternyata kembali menyulut ketidaksukaan tokoh-tokoh dan para pejabat saat itu. Mereka pun kembali melobi raja untuk kembali menjebloskan Ibnu Taimiyah kedalam penjara.
Pada tanggal 7 Sya’ban 726 H, keluarlah perintah raja untuk memenjarakan Ibnu Taimiyah di benteng Damaskus. Bukan itu saja, murid-murid utama beliau pun ikut ditangkap. Mereka disiksa dan dipertontonkan kepada masyarakat. Termasuk di antara mereka, Ibnul Qayyim.
Walau dipenjara, Ibnu Taimiyah memanfaatkan momen itu untuk menulis kitab dan fatwa-fatwa kepada masyarakat yang kemudian disebarkan melalui orang-orang yang menjenguk beliau di penjara.
Hal inilah yang membuat geram penguasa waktu itu. Akhirnya, pada tanggal 9 Jumadil Akhir 728 H, dikeluarkan kebijakan baru untuk melarang apa pun yang keluar dari penjara. Ibnu Taimiyah pun dilarang membaca dan menulis.
Hal yang bisa dilakukan Ibnu Taimiyah adalah berdzikir dan melantunkan tilawah Alquran yang memang sudah melekat dalam hafalannya. Tidak kurang selama setiap sepuluh hari, beliau mengkhatamkan tilawahnya. Selama dua tahun beberapa bulan dalam penjara, sudah 81 kali Ibnu Taimiyah mengkhatamkan tilawah Alquran.
Di penjara tesebut, Ibnu Taimiyah sakit. Seorang menteri minta izin untuk menjenguk beliau. Dalam pertemuan itu, sang menteri memohon maaf atas ketidakmampuannya mengeluarkan Ibnu Taimiyah dari penjara. Tapi, Ibnu Taimiyah langsung mengatakan bahwa semua ini bukan karena kesalahan sang menteri. Dan beliau memaklumi posisi menteri tersebut.
Ibnu Taimiyah pun mengatakan, “Aku telah memaafkan orang-orang yang telah berbuat salah kepadaku, kecuali mereka yang telah menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya.”
Salah seorang murid beliau, Ibnu Katsir, menuturkan bahwa Syaikh Ibnu Taimiyah meninggal dunia pada malam Senin, tanggal 20 Dzulqa’dah 728 H di dalam penjara. Dan kalimat terakhir yang diucapkan adalah tilawahnya di Surah Al-Qamar ayat 54-55.
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ ﴿٥٤﴾
فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِندَ مَلِيكٍ مُّقْتَدِرٍ ﴿٥٥﴾
“Sesungguhnya orang-orang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.”